aiCobain

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘sumatera utara’

Deli Tua, Situs Sejarah yang Terlupakan

Posted by Tengku Fahri pada 17 Maret 2012

SELAIN wisata alam Danau Toba dan alam pegunungan di Bukit Lawang, Sumatera Utara (Sumut) masih mempunyai beberapa segi wisata, antara lain wisata sejarah. Salah satu wisata sejarah di Sumut yang belum banyak dikenal orang adalah menelusuri sejarah Kerajaan Haru, yang merupakan salah satu cikal bakal kesultanan yang melahirkan Istana Maimoon di Medan. Sejarah Kerajaan Haru pulalah yang memadukan masyarakat Karo, Melayu, dan Aceh pada sebuah pertalian.

Berdasarkan catatan sejarah, pada abad ke-15, Kerajaan Haru itu termasuk salah satu kerajaan terbesar di Sumatera, setara dengan Kerajaan Pasai dan Malaka. Saat ini, di wilayah bekas Kerajaan Haru ini telah berdiri sebelas kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara bagian timur, yaitu Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Karo, Tebing Tinggi, Simalungun, Pematang Siantar, Asahan, Tanjung Balai, dan Labuhan Batu.
Pertalian Aceh, Karo, dan Deli bisa dilihat dari hal ini. Sultan pertama Kerajaan Deli yakni Tuanku Panglima Gocoh Pahlawan. Ia adalah Panglima Perang Aceh yang ditempatkan di sekitar wilayah Kerajaan Haru. Penempatan tersebut dilakukan untuk meredam pemberontakan terhadap Kerajaan Aceh pada masa Raja Iskandar Muda. Setelah menguasai ibu kota Kerajaan Haru di Deli Tua, Gocoh Pahlawan meminang putri keturunan Karo dan mendirikan Kerajaan Deli di tempat yang sama.

Salah satu Keturunan Gocah Pahlawan adalah Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, yang membangun Istana Maimoen pada akhir abad ke-19. Istana itu bahkan masih berdiri megah hingga saat ini di tengah Kota Medan, Sumatera Utara. Sabtu, 6 April 2002.

MENJELAJAHI situs Kerajaan Haru adalah sebuah keasyikan tersendiri. Lokasi bekas ibu kota Kerajaan Haru itu terletak sekitar lima kilometer dari Pasar Deli Tua Baru di Jalan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada daerah yang udaranya masih bersih. Cocok untuk trekking sambil berwisata.
Setelah melalui jalan aspal beberapa saat, perjalanan ke situs itu kemudian dilanjutkan dengan melewati jalan berbatu dan sempit, menyusuri pinggiran Sungai Deli dan menyeberangi sebuah jembatan gantung yang bergoyang saat dilewati.

Usai melewati jembatan gantung, sampailah kita pada jalan yang diberi nama Jalan Pancur Gading. Nama ini diberikan, sebab di sepanjang jalan tersebut akan ditemui dua dari sebelas pancuran air yang dikeramatkan penduduk setempat. Masyarakat setempat mempercayai bahwa pancuran-pancuran air tersebut, dulunya, sering digunakan oleh penduduk di Kerajaan Haru, mulai dari raja hingga dayang-dayang kerajaan.

Kini, semua pancuran air tersebut telah dibuat permanen. Mata air yang turun langsung dari bukit tersebut ditampung dalam sebuah bak tembok setinggi satu setengah meter. Air tersebut kemudian dikeluarkan melalui dua buah pipa plastik yang tidak pernah ditutup sehingga airnya yang jernih itu mengalir terus-menerus.
Pancuran yang terbesar, yaitu berasal dari tiga titik keluaran air, terletak setelah kita melewati pancuran pertama yang berada di pangkal Jalan Pancur Gading. Penduduk setempat mempercayai bahwa pancuran terbesar itu merupakan tempat Putri Hijau, salah seorang penguasa terakhir Kerajaan Haru, untuk mandi. Situs sejarah bekas Istana Kerajaan Haru berada dekat dengan pancuran yang kedua itu. Pada hari libur atau akhir pekan, puluhan orang bermalam di pancuran ini.

KINI kita sudah dekat dengan situs sejarah peninggalan Kerajaan Haru. Dengan menaiki satu bukit lagi, sampailah kita di sana.

Akan tetapi, jangan membayangkan akan menjumpai runtuhan istana atau serakan batu candi misalnya. Situs itu kini hanya menyisakan gundukan tanah dengan tinggi sekitar lima meter dan lebar empat meter sehingga membentuk parit-parit yang dalam dan panjang. Gundukan tanah tersebut dibangun sebagai benteng pertahanan Kerajaan Haru saat menghadapi serangan laskar Sultan Aceh Alaiddin Mahkota Alam Johan Berdaulat atau Sultan Alaiddin Riayat Shah Al Qahhar.

“Orang Karo zaman dulu membangun rumah atau istana semata dari kayu. Jadi, tidak ada peninggalan yang bisa kita rasakan saat ini,” kata Darwan Perangin-angin, seorang tokoh masyarakat Karo yang mengarang buku “Adat Karo”.

Bukti bahwa gundukan tanah tersebut digunakan sebagai benteng pertahanan jaman Kerajaan Haru adalah letak gundukan tanah itu yang mengelilingi tanah datar yang ada di atas bukit itu. Tepat di atas tanah datar itulah tempat Istana Kerajaan Haru dan permukiman penduduk Kampung Deli Tua dulu berada. Sementara, letak gundukan tanah yang Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam dunia, informasi, Kota Medan, Nasional, Pendidikan, sejarah, serba serbi | Bertanda: , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

7 Tahanan Narkoba Poldasu Kabur, Turuni Tembok Pakai Sarung

Posted by Tengku Fahri pada 22 September 2009

http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20090513_100819_penjara2.jpg

Sabtu, 19 September 2009
LUBUKPAKAM-UNTUK kali kedua, tujuh tahanan yang dibelenggu di RTP Narkoba Poldasu kabur dari sel. Mereka melarikan diri setelah memotong jeruji besi lubang ventilasi, lalu memanjat bangunan menara pengawas di bagian kanan gedung penjara.

Menurut sumber di Mapolres Deliserdang, hal itu terjadi lantaran kelalaian 4 orang petugas keamanan yang saat itu tengah mendapat giliran jaga di RTP Narkoba Poldasu yang berlokasi di Desa Jati Sari, Lubukpakam.

Bahkan menurut sumber terpercaya itu, saat ketujuhnya kabur, keempat petugas yang seharusnya berjaga, sedang tertidur pulas. Karena itu pula, petugas baru mengetahui kaburnya tahanan setelah satu jam berlalu.

Masih dibeberkan sumber, pelarian para tahanan narkoba itu sudah matang direncanakan sebelumnya. Buktinya, para tersangka memiliki gergaji besi yang digunakan untuk memotong trali besi.

Anehnya, dari hasil analisa sumber yang tak ingin namanya disebutkan, karena yang dipotong berupa terali besi, sudah pasti mengeluarkan suara. Tetapi petugas yang berjaga mengaku tak ada mendengarkan suara dimaksud.

Namun saat hal ini ditanyakan, AKP RH Harahap, petugas di sana tak bersedia memberikan keterangan. Alasan dia, yang berhak memberikan keterangan terkait kasus itu hanyalah Dir Narkoba Poldasu.

Pakai Kain Sarung

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Deliserdang AKP Ruruh Wicaksono SiK mengatakan, begitu dapat informasi kaburnya tahanan, pihaknya langsung terjun ke lokasi. Dari hasil penyidikan, mereka menemukan 4 kain sarung yang terikat satu dengan lainnya di balik tembok RTP Narkoba.

Untaian kain sarung itulah yang digunakan para tahanan sebagai alat pegangan menuruni tembok penjara yang tingginya mencapai 3 meter. Sementara untuk menaiki tembok, ketujuh tahanan narkoba itu ternyata juga mengikuti jejak Ridwan (20) tahanan narkoba Poldasu yang juga sukses melarikan diri dari RTP itu pada bulan Mei 2006 lalu.

Kala itu Ridwan juga berhasil lolos dari tembok penjara setelah memanjat menara pengawas bagian kanan RTP Narkoba Poldasu itu.

Usai memotong 3 batang terali besi lubang ventilasi sel tahanan, para tahanan itu pun kabur lewat ventilasi. Begitu berada di luar gedung RTP, ketujuh tahanan bergegas menaiki menara pengawas. Lewat menara itu pula ketujuh tahanan itu berhasil meloloskan diri dari tembok penjara.

Masih kata Ruruh, pihaknya juga tengah membantu mencari ketujuh tahanan narkoba itu. “Sayangnya, hingga kini upaya memburu ketujuh tahanan narkoba itu belum membuahkan hasil,” kata Ruruh.

Kabid Keamanan Dep Hukum dan HAM, Lisnardiati mengatakan, untuk kasus RTP Narkoba Poldasu ini, tidak masuk dalam ruang lingkup pihaknya. “Untuk tahanan narkoba yang di Lubukpakam, itu bukan tanggung jawab kita,” katanya.

Hal itu disebutkan Lisnardiati, lantaran rumah tahanan tersebut belum diserahkan pengelolaannya dari Poldasu ke Dep Hukum dan HAM. “Jadi itu masih tanggung jawab Poldasu. Tapi kalau yang di Siantar, sudah masuk tanggung jawab kita,” katanya.

Ditulis dalam berita, Kota Medan, kriminal, Nasional, news | Bertanda: , , , , , , , , | 1 Komentar »

Seorang Nenek Dibunuh Saat Membaca Al Qur’an [biadab!]

Posted by Tengku Fahri pada 10 September 2009

BESILAM-“YA ALLAH, kok tega kalilah pelakunya membunuh nenek ini, padahal dia ini orangnya baik kali,” demikian ungkapan pilu sejumlah warga di hadapan jenazah Hj. Nek Basyariah (65), yang dijagal saat khusuk membaca Al Qur’an di rumahnya, Dusun II Hulu, Desa Besilam, Kecamatan Padang Tualang, Langkat, usai solat Subuh kemarin (9/9), sekira pukul 6 pagi. Biadab! Biadab! Nenek Dibunuh Saat Membaca Al Qur’an Perkampungan yang dikenal sebagai pusat Tarekat Naqsabandiah di Dusun II Hulu, Desa Besilam, Kec Padang Tualang, Kab Langkat, kemarin (9/9) mendadak heboh. Tak tanggung, seorang Hajjah tewas penuh bacokan saat mengaji Al Quran. Darah korban Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam berita, hot news, Kota Medan, kriminal, Nasional, news | Bertanda: , , , , , , , | 4 Komentar »

Caleg Terpilih PDIP Binjai Dipaksa Akui Ijazah Palsu

Posted by Tengku Fahri pada 27 Agustus 2009

CALEG (calon legislatif) terpilih PDIP, Mariono


BINJAI-caleg (calon legislatif) terpilih PDIP, Mariono (42), kemarin (26/8) mendatangi kantor KPUD Binjai. Warga Jalan Dr Wahidin, Kelurahan Sumber Mulyo Rejo, Binjai Timur, ini mengadukan intimidasi yang diterimanya dari pria yang mengaku polisi dari Sat Intel Polresta Binjai.

Kedatangan Mariono yang didampingi istrinya, Sariah (38), ingin menjelaskan kepada Ketua KPUD Binjai, Agus Santoso SH MH, dirinya didatangi pria mengaku polisi. Pria itu menuding dirinya menggunakan ijazah palsu dalam proses pencalonan. ia diminta untuk menemui pimpinan partainya yang telah menunggu di kantor PDIP Binjai.

Merasa curiga dengan kehadiran pria itu, Mariono meminta untuk dipertemukan dengan Kasat Intel Polresta Binjai. Lalu, pria yang mengaku polisi itu membawanya ke warung Mbak Moel, Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Bandar Senembah, Binjai Barat. Di sana, Mariono bertemu dengan Iptu Y.

Di warung itu, lanjut Mariono yang bercerita pada POSMETRO MEDAN, dirinya dipaksa mengakui telah menggunakan ijazah palsu untuk menjadi Caleg. Kepada Mariono, Iptu Y mengaku telah memeriksa ke sekolah tempat Mariono mengecap pendidikan.

Namun hal itu ditampik Mariono. Ia bersikeras tidak mau menuruti permintaan oknum mengaku polisi itu. “Kalau saya menggunakan ijazah palsu, berarti saya telah menipu orang – orang yang mendukung saya. Dalam masalah ini, apabila saya mempergunakan ijazah palsu, tentu Ketua KPU Binjai juga terlibat. Sementara saya tidak pernah merasa Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam berita, Kota Medan, Nasional, news | Bertanda: , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 402 pengikut lainnya.