aiCobain

Di Balik Kisah Ibu Lahirkan Bayi Berkaki dan Tangan 8

Posted by Tengku Fahri pada 9 Agustus 2009

Anak Pertama Lahir Tercampak ke Dinding Lagi Jalan, Kepala Anak Kedua Keluar


Farida Hanum, ibu bayi berkaki dan tangan 8.

RSUP H ADAM MALIK-MEDAN

cerita Farida Hanum (35) cukup membuat kaget. Jauh hari sebelum melahirkan bayi dengan 4 tangan dan 4 kaki, dia rutin minum pil KB agar tidak hamil. Selain itu, kejadian aneh juga dialaminya saat kelahiran anak pertamanya. Putra yang kini berusia 7 tahun itu, tercampak ke dinding ketika keluar dari rahim.

Saat ditemui di ruang Rindu B, Lantai I, RSUP H Adam Malik Medan, kemarin (7/8), Farida sudah mulai bisa diajak cerita. Di awal cerita dia bilang, sejak kelahiran anak ketiganya, dia dan suami sepakat untuk tidak menambah anak. Bahkan sejak 2005 itu, dia rutin mengkonsumsi Pil KB.

Farida sendiri, yang tak didampingi suaminya Soni Ardiansyah Ginting (32) mengaku heran. “Padahal aku minum pil KB. Nggak tau kenapa bisa bocor (hamil-red)?” ujar Farida.

Masih katanya, tekad mereka untuk tidak menginginkan bayi lagi sangat kuat. Sebab selain telah punya tiga anak, kehidupan dan perekonomian mereka pun pas-pasan.

Tapi kenyataan berkata lain. Farida yang berdarah Aceh-Sunda itu, kembali mengandung. Namun yang dikandungnya selama ini ternyata berwujud ganjil. Tak tahu, apakah ada hubungannya dengan metafisis akibat penolakan kepada bayi sejak lama atau itu efek negatif dari pil KB. Sejauh ini belum ada jawaban pastinya.

Kembali cerita Farida, padahal sejak mengandung anak keempatnya itu, dia memaksakan diri mencari barang bekas untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga.

“Dalam keadaan hamil, aku tetap kerja. Kalau tidak mencari botot, yah cuci pakaian orang. Kalau tidak begitu, darimana kami bisa makan?” kata Farida yang suaminya berprofesi sebagai tukang becak bermotor (parbetor).

Banting tulang Farida wajar saja. Sebab suaminya paling-paling hanya bisa memberikan Rp.20 ribu tiap hari. Malah terkadang tak dapat uang sama sekali. “Makanya ku bantu mencari botot,” ujar Farida.

Diceritakannya lagi, suatu ketika, tepatnya saat kehamilan keempat bulan, Farida membawa anak-anaknya mencari botot. Di teriknya siang itu, anak-anaknya kelaparan.

“Karena nggak ada uang, aku terpaksa mengambil sisa makanan dari tong sampah. Itu yang aku kasih untuk makan anak-anak. Yah, aku pun saat itu ikut makan nasi sisa itu,” kenang Farida.

Kondisi yang begitu parahlah, membuat Farida dan suaminya benar-benar bertekad untuk menghentikan kehamilan. Tapi rahim yang sudah sempat terisi, tak mungkin dibunuh. Mereka takut dosa dan hukum yang akan bertindak.

“Untung kami pake Jamkesmas. Kalau tidak, bagaimana bisa bayar uang operasinya?” ujar Farida seraya mengaku, tidak terkejut dengan keanehan anak keempatnya yang diberi nama “Kamis” itu.

“Aku nggak terlalu heran dengan keanehan anak keempat ku ini. Sebab aku sudah mengalami keanehan sejak melahirkan anak pertamaku yang bernama Rahmanda di tahun 2002,” katanya.

Saat itu, Farida melahirkan di rumah dengan dibantu bidan. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba bayi yang masih menempel ari-ari itu, tercampak sampai membentur dinding kamar.

Selanjutnya pada kelahiran anak kedua di 2003, Farida juga mengalami hal aneh. Waktu itu, dia baru saja memeriksakan kehamilannya ke klinik dekat rumahnya. “Kata bidan, kandunganku normal. Bidan juga menyuruh aku datang besoknya, kembali periksa,” kisah Farida.

Tapi saat berjalan ke klinik, tak disadari Farida, putri yang diberi nama Puja Sri Karina itu, saat itu malah mengeluarkan kepala dengan tubuh masih tetap berada di rahimnya.

“Begitu sampe di depan pintu Klinik, kepala bayiku sudah keluar. Bidan itu pun terkejut dan cepat-cepat aku disuruhnya berbaring. Gampang saja dia menarik bayiku keluar,” terang Farida yang tersenyum mengingat kisah itu.

Nah dua tahun kemudian, Farida kembali melahirkan anak ketiganya yang diberi nama Dedek Sri Karina. “Cuma anak ketigaku inilah yang normal. Bahkan saat lahir anakku beratnya sampai 4 Kg,” ujarnya seraya menambahkan, jenajah bayinya sore itu juga langsung dikebumikan suami bersama warga di TPU Muslim, tak jauh dari kediaman mereka di Jalan Luku I, Gang Kali, Padang Bulan, Medan.

Sabtu, 8 Agustus 2009 | 10:31

sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: