aiCobain

Israel Menjarah Organ Tubuh Rakyat Palestina

Posted by Tengku Fahri pada 21 Agustus 2009

Dunia mengetahui banyak orang Palestina yang hilang diculik Israel, dan tidak banyak yang tahu apa yang terjadi atas mereka selama ini. Kini misteri itu sebagiannya telah tersingkap

Hidayatullah.com–Surat kabar ternama di Swedia, Aftonbladet, Senin (17/8) menurunkan sebuah laporan yang membuat media massa dan orang-orang Israel panik seperti kebakaran jenggot. Isinya tentang Israeli Defense Force (IDF) yang telah membunuh orang-orang Palestina, termasuk anak-anak, kemudian menjual organ mereka.

Begitu meresahkannya berita itu hingga harian Israel Haaretz menulis, bahwa surat kabar Swedia, Sydsvenskan, terlalu cepat mengutuk berita pencurian organ itu, dan menuduhnya sebagai anti-Semit.

Yigal Palmor, seorang juru bicara di Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan berita itu tidak masuk akal. Ia mengatakan bahwa berita itu sengaja memicu kebencian terhadap Yahudi. “Ini sangat memalukan bagi kebebasan berekspresi, dan seluruh orang Swedia harus menolak (berita) itu tanpa kecuali,” katanya kepada The Jerusalem Post.

Laporan yang berjudul “Våra söner plundras på sina organ” (Mereka menjarah organ putra-putra kami) ditulis oleh Donald Boström–seorang jurnalis, fotografer dan penulis buku Palestina–disusun berdasarkan apa yang dilihat, didengar dan diamati sendiri.

“Saya bisa disebut sebagai ‘match maker’,” kata Levy Izhak Rosenbaum dari Brooklyn, Amerika Serikat, dalam rekaman rahasia, yang berisi obrolannya dengan seorang agen FBI yang dikiranya sebagai seorang pembeli. Demikian Boström memulai tulisannya.

Sepuluh hari kemudian Rosenbaum, pada akhir bulan Juli 2009 ini ditangkap bersama 40 orang lainnya, terkait kasus korupsi besar di New Jersey, yang menyingkap adanya keterlibatan rabi Yahudi, pejabat terpilih, terpercaya dan terkenal — 3 diantaranya adalah walikota–dalam praktek pencucian uang dan jual beli organ ilegal yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Sebagian besar uang yang berasal dari Israel itu disalurkan melalui bank-bank di Swiss sebelum akhirnya bermuara di rekening-rekening di New Jersey.

Berdasarkan pernyataannya sendiri, Rosembaum membeli mayat-mayat dari orang-orang yang tidak berpunya di Israel seharga USD 10.000, kemudian menjualnya di AS dengan harga USD 160.000. Untuk mendapatkan sebuah organ ginjal dengan proses resmi di AS, masa menunggunya rata-rata 9 tahun.

Fakta tersebut sangat menguncangkan industri transplantasi organ di AS. Jika benar demikian, maka itu adalah organ trafficking pertama yang berhasil didokumentasikan di AS, demikian kata seorang pakar sebagai mana dikutip New Jersey Real-Time News.

Ditanya berapa banyak mayat yang telah dijual olehnya, Rosenbaum menjawab: cukup banyak. “Dan saya tidak pernah gagal,” katanya membanggakan diri. Bisnisnya itu sudah ia lakoni sangat lama.

New Jersey Real-Time News menulis, menurut Francis Delmonici, profesor pakar bedah transplantasi dari Harvard yang juga anggota dewan direksi National Kidney Foundation, organ trafficking seperti yang ada di Israel juga terjadi di belahan dunia lain. Setidaknya 10 persen dari 63.000 transplantasi ginjal, dilakukan secara ilegal.

Negara dengan kasus transplantasi organ ilegal tertinggi adalah Pakistan, Filipina dan China. Dikatakan, kemungkinan organ-organ di negara-negara itu diambil dari narapidana yang dieksekusi. Tetapi di Palestina, diduga kuat organ-organ diambil dari para pemuda yang berhasil ditangkap oleh Israel. Sebagaimana di Pakistan dan China, organ mereka diambil sebelum mereka dibunuh.

Separuh dari ginjal baru di Israel yang ditransplantasi sejak awal tahun 2000 dibeli secara ilegal dari Turki, Eropa Timur dan Amerika Latin. Otoritas kesehatan Israel sangat mengetahui masalah tersebut, tapi mereka tidak melakukan hal apapun untuk menghentikannya. Dalam sebuah konferesi di tahun 2003, diungkap bahwa Israel merupakan satu-satunya negara yang tidak melarang adanya praktek jual beli organ ilegal. Dan para praktisi medis dan kesehatan yang terlibat tidak akan pernah dikenakan sanksi kriminalitas karena melakukan transplantasi organ ilegal. Bahkan dokter-dokter kepala di banyak rumah sakit besar terlibat dalam operasi transplantasi organ ilegal, demikian menurut Dages Nyheter (5 Desember, 2003) sebagaimana dikutip Boström.

Untuk mengatasi kurangnya pasokan organ, Ehud Olmert yang ketika itu menjadi menteri kesehatan, pada musim panas tahun 1992 melakukan kampanye besar-besaran. Setengah juta pamflet disebar melalui surat kabar lokal, mengajak penduduk Israel agar mau menulis pernyataan bahwa mereka bersedia mendonorkan organnya setelah mereka mati. Ehud Olmert menjadi orang pertama yang menulis pernyataan itu.

Beberapa pekan kemudian Jerusalem Post melaporkan bahwa kampanye itu sukses besar. Tidak kurang dari 35.000 orang telah menulis pernyataan. Padahal biasanya hanya ada 500 orang dalam sebulan. Masih dalam laporan yang sama, ditulis bahwa permintaan dan persediaan organ masih tidak seimbang. Israel masih kekurangan banyak organ. Dari 500 yang perlu transplantasi ginjal, hanya 124 orang yang bisa menjalani operasi. Dari 45 orang yang membutuhkan organ hati baru, hanya 3 yang punya kesempatan operasi.

Selama kampanye itu berlangsung, banyak laki-laki Palestina yang menghilang. Kalaupun kembali, mereka datang pada waktu malam, lima hari kemudian, dalam keadaan mati dengan bekas jahitan ditubuhnya.

Pembicaraan mengenai kematian yang dramatis tersebut merebak di kalangan orang Palestina, di Gaza maupun Tepi Barat, seiring dengan semakin banyaknya pemuda Palestina yang menghilang, mati, dan dikembalikan dalam keadaan “sudah diotopsi.”

Boström menuliskan, saat itu ia sedang menulis sebuah buku , ketika beberapa kali ia dihubungi staf PBB yang peduli mengenai masalah tersebut. Mereka yang menghubunginya curiga ada semacam pencurian atas tubuh-tubuh orang Palestina, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Atas nama sebuah stasiun televisi, Boström kemudian berkeliling mendatangi banyak keluarga orang-orang Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, guna mencari tahu tentang masalah tersebut. Salah satu fakta yang ia dapat dalam perjalanannya yang menyedihkan itu adalah menyangkut Bilal Ahmad Ghanan.

Saat itu jam menunjukkan tengah malam ketika suara kendaraan militer Israel terdengar di luar desa Imatin di Tepi Barat sebelah utara. Desa yang dihuni 2.000 orang itu sunyi senyap, gelap, karena Israel telah mematikan aliran listrik di sana. Orang-orang berdiam di rumah mereka, di atap, di balik tirai, di balik pohon, menanti siapa yang akan menjadi korban pertama dari kekejaman tentara Israel. Tidak ada yang bisa keluar bahkan seekor kucing pun, tanpa mempertaruhkan nyawa mereka.

Lima hari sebelumnya, 13 Mei 1992, tentara Israel mendatangi desa itu untuk menangkap Bilal Ahmad Ghanan, pemuda 19 tahun yang sangat aktif melempari Israel dengan batu, membuat hidup penjajah menjadi tidak nyaman.

Ia merupakan salah satu pemuda Palestina yang paling dicari, karena merupakan pelempar batu yang cukup dikenal. Oleh sebab itu ia hidup berpindah-pindah di sekitar Nablus bersama pemuda pelempar batu lainnya, mereka bahkan tinggal di gunung. Jika mereka tertangkap oleh Israel, itu artinya kematian. Entah apa yang membuat Bilal turun ke desa pada hari itu, sehingga ia berhasil ditangkap Israel. Menurut kakaknya Talal, mungkin ia kehabisan makanan.

Malam itu, semuanya berjalan lancar sesuai rencana tentara Israel, ketika Bilal sudah mendekat, tembakan pertama mengenai dadanya. Menurut penduduk desa yang menyaksikan peristiwa itu, Bilal kemudian ditembak di tiap kakinya. Kemudian muncul dua orang tentara yang menembak bagian perutnya. Mereka lalu menyeret Bilal dengan menarik kakinya sepanjang kira-kira 20 langkah. Menurut saksi mata, beberapa orang dari PBB dan Palang Merah yang sedang berada disekitar tempat kejadian dan mendengar tembakan, segera mendatangi tempat itu untuk melihat dan merawat korban. Terjadi perdebatan di antara mereka mengenai siapa yang berhak mengurus Bilal. Perdebatan itu berakhir dengan diangkutnya Bilal ke jeep tentara Israel yang segera membawanya keluar desa. Tidak ada yang tahu ke mana pemuda itu di bawa.

Lima hari kemudian, ketika hari sudah malam, Bilal kembali dalam keadaan sudah mati dan terbungkus kain hijau dari rumah sakit. Kapten Yahya, yang memimpin tentara Israel membawa Bilal pulang, berbisik ke telinga Boström, di tengah kegelapan, “Saat yang paling sulit bagi mereka.” Ketika orang-orang Kapten Yahya menurunkan mayat Bilal dan mengganti kain hijau itu dengan kain katun, ia menyuruh beberapa kerabat Bilal untuk menggali lubang kubur dan mengaduk semen.

Ketika mereka menggali lubang kubur, tentara Israel tak hentinya tertawa-tawa dan bercanda dengan sesamanya hingga mereka pulang.

Saat Bilal diturunkan ke liang kubur, kain penutup terbuka, dan terlihat dadanya. Tubuhnya telah disayat pisau bedah dari bawah dagu hingga ke pusar, lalu dijahit kembali.

Bilal bukanlah orang pertama yang telah dikuburkan dalam keadaan serupa. Hal tersebut menimbulkan dugaan kuat bahwa sesuatu telah terjadi terhadap tubuh-tubuh orang Palestina itu.

Orang-orang Palestina di Tepi Barat dan Jaur Gaza akhirnya yakin apa yang telah terjadi dengan putra-putra mereka. Anak-anak kami telah dijadikan pendonor organ secara paksa, demikian kata keluarga dari Khaled di Nablus, ibu dari Raed di Jenin, dan paman-paman Mahmud dan Nafes di Gaza kepada Boström. Mereka semuanya menghilang selama beberapa hari, kemudian kembali pada malam hari, dalam keadaan tewas dan tubuhnya disayat pisau bedah.

Mengapa mereka harus menahan mayat-mayat mereka selama beberapa hari sebelum kami bisa menguburnya? Apa yang terjadi pada tubuh-tubuh mereka ketika itu? Dan mengapa otopsi perlu dilakukan, padahal penyebab kematiannya sudah jelas, dan tidak ada ijin dari kami untuk melakukan itu? Dan mengapa mayat mereka harus dikembalikan pada malam hari? Mengapa tentara yang membawa mereka pulang ke rumah? Mengapa mereka menutup area sekitar tempat penguburan? Dan mengapa mereka harus memadamkan listrik ketika itu? Banyak pertanyaan yang muncul.

Sekarang, keluarga dari para pria Palestina yang dibunuh itu ditidak lagi mengajukan pertanyaan semacam itu. Mereka sudah tahu jawabannya.

Jurubicara militer Israel menyanggah pernyataan orang-orang Palestina, dan mengatakan bahwa pencurian organ itu merupakan cerita bohong yang dikarang orang Palestina. Semua orang Palestina yang terbunuh selalu diotopsi, itu merupakan rutinitas, demikian katanya.

Bilal Ahmad Ghanan merupakan satu di antara 133 orang Palestina yang mati terbunuh tahun itu. Menurut data statistik, tahun itu orang Palestina tewas karena bebagai macam sebab, ada yang ditembak di jalan, karena ledakan, dipukuli, terkena gas air mata, dihantam keras, digantung di penjara, ditembak di sekolah, dibunuh di rumah, dan lain sebagainya. 133 orang itu usianya bervariasi, mulai dari 4 bulan hingga 88 tahun. Ada 69 tubuh yang kembali dalam keadaan sudah “diotopsi.” Itu berarti hanya separuhnya. Dengan demikian, pernyataan jurubicara militer Israel yang mengatakan bahwa otopsi selalu dilakukan atas orang-orang Palestina yang tewas terbunuh, sama sekali tidak benar. Dengan demikian masih patut dipertanyakan, ada apa sebenarnya?

Sebagaimana diketahui, kebutuhan organ di Israel sangat tinggi, oleh karena itu, donor ilegal pasti terjadi sudah sejak lama. Dan hal itu dilakukan atas sepengetahuan pemerintah Israel. Bahkan para dokter senior di rumah-rumah sakit besar terlibat, sebagai mana petugas-petugas lainnya di setiap level. Faktanya, banyak pemuda Palestina yang menghilang, kemudian dikembalikan pada hari ke 5 di waktu malam dengan penuh kerahasiaan, dalam keadaan mati, dan tubuhnya disayat pisau bedah yang dijahit kembali.

———

2 Tanggapan to “Israel Menjarah Organ Tubuh Rakyat Palestina”

  1. wallahi….lemahnya israel bagaikan rumah laba-laba, yg dengan mudah kita menghancurkannya. save palestina..!! wallahi billahi kejam \nya israel…..sumpah kalau kita diam atas semua ini, maka tak ada bedanya kita ama hewan yg paling hina diantara hewan yang lainnya, dan bahkan lebih hina…g masuk akal tindakan israel terhadap palestina.
    kami juga nulis artikel tentang palestina. judulnya “aku anak palestina” dan “The Boy in the Striped Pyjamas” liat aja di sini lngng klik aja
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/
    jgn lupa tinggalkan komentar juga ya…!!

  2. Ida Rosida said

    aq cuma mau bertanya pada diri sendiri, apakah uang itu sudah menjadi Tuhan bagi manusia sekarang ini, hingga golongannya ( sama2 manusia ) harus dikorbankan organnya untuk memenuhi keinginannya dan tidak sedikitpun merasa seandainya itu terjadi pada ibunya atau saudaranya, Ya Allah..Aq mohon ampun kepadaMu,jadikan aq dalam golongan orang2 yang bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan, jauhkan aq dari sifat serakah dan sombong, masukkan aq kedalam orang2 yang berserah diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: